Kelas adalah sebuah ruangan buat belajar

26 April 2009

Pornografi di dua Sisi Antara Budaya Indonesia dan Asing



A
pakah yang mendefinisikan Kebudayaan Indonesia? Apakah pula yang mendefinisikan jati diri kita sebagai bangsa yang besar? Apakah kita harus menolak atau menerima kebudayaan asing? Bisakah dialektika antara budaya asing dan lokal dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa kita? Mari kita simak artikel ini.

Mengkaji Jepang pada Masa peralihan Era Tokugawa ke Era Modern

Bagi pembaca yang pernah menonton film ‚Last Samurai‘, yang pemeran utamanya adalah Tom Cruise, pasti sudah mengenal betul mengenai cerita dialektika antara Budaya barat dan budaya Jepang asli di film tersebut. Mungkin cerita dalam film tersebut mengandung unsur fiksi, namun filosofi filmnya sangat mewakili sejarah Jepang. Cerita mengenai persahabatan Kapten Nathan dari Amerika Serikat, dan Katsumoto, penasihat Kaisar Meiji, menjadi sorotan utama film.

Sekilas mengulang, Jepang pada tahun 1877 diperintah oleh Kaisar Meiji. Sang Kaisar berambisi untuk menjadikan Jepang sejajar dalam segala bidang dengan negara barat. Meiji menggunakan pakaian gaya barat, dan belajar menggunakan bahasa Inggris. Kaisar memanggil Kapten Nathan untuk memajukan angkatan bersenjata Jepang. Namun Katsumoto dan anak buahnya menolak proyek modernisasi. Alasannya politis, sebab dia tidak suka dengan menteri-menteri yang terlibat dalam proyek tersebut. Adapun dalam suatu pertempuran, Nathan ditangkap oleh anak buah Katsumoto dan dibawa ke markasnya. Di sana, Nathan belajar mengenai budaya dan bahasa Jepang. Nathan menjadi ahli dalam menggunakan Katana (Pedang Jepang) dan menjadi samurai. Di sisi lain, Katsumoto sangat senang menggunakan Bahasa Inggris sewaktu berdiskusi dengan Nathan. Katsumoto banyak belajar akan strategi perang dari Nathan, yang veteran perang saudara Amerika. Dalam film tersebut, interaksi antara Nathan dan Katsumoto menjadi contoh yang sangat baik, bahwa interaksi dan adaptasi antar budaya dapat berlangsung dengan damai.

Islam dan Jawa pada Pasca ‚Keruntuhan‘ Majapahit

Saya menggunakan istilah ,keruntuhan‘ Majapahit dengan tanda petik, karena saya tidak percaya bahwa Majapahit benar-benar sudah runtuh. Tidak demikian. Menurut pendapat pribadi saya, ibu kota Majapahit hanya berpindah dari Trowulan ke Denpasar. Menurut seorang pujangga Jawa, Bali adalah ‚Majapahit yang hilang‘. Namun mengenai hal ini tidak akan dibahas dalam artikel ini.

Prabu Brawijaya adalah Raja Majapahit yang terakhir. Setelah Prabu Brawijaya turun takhta dan menghilang (moksa), Raden Patah menjadi Sultan Demak yang pertama. Bukan suatu kebetulan, bahwa Raden Patah adalah putra dari Prabu Brawijaya sendiri. Dalam memerintah negaranya, Raden Patah dibantu oleh Wali Songo (Wali sembilan). Dari sembilan wali tersebut, ada seorang tokoh yang menarik untuk dikaji. Namanya Sunan Kalijaga. Kalijaga boleh dibilang berbeda dengan tokoh wali yang lain. Dalam berpakaian, Kalijaga selalu menggunakan pakaian tradisional Jawa. Berbeda dengan wali lain, yang menggunakan pakaian ala timur tengah. Kalijaga percaya, bahwa Islam dapat didakwahkan dengan menggunakan pendekatan budaya lokal. Salah satu buktinya, dia menggunakan wayang sebagai media dakwah. Dalam dakwahnya, Kalijaga sangat menjaga untuk tidak menggunakan terlalu banyak simbol agama. Pernah dia menonton suatu pertunjukan adu ayam, yang adalah perjudian. Kalijaga hanya menonton saja, tanpa komentar apa-apa. Selesai adu ayam, ada seorang yang kelihatan limbung. Kelihatannya dia kalah dalam perjudian tersebut. Kalijaga mendekati dia, dan bertanya apa yang terjadi. Jawaban orang tersebut adalah dia kalah dalam adu ayam. Kalijaga memberikan nasihat, bahwa sebaiknya tidak usah ikut adu ayam lagi, karena akan merugikan diri sendiri. Nasihat tersebut diberikan tanpa simbol-simbol agama yang berlebihan. Ada pendapat, bahwa dakwah Islam di Jawa tidak tuntas. Menurut saya, itu pendapat yang sangat salah dan sangat keliru. Jika berdakwah tidak mengunggunakan simbol-simbol arab berarti dianggap tidak tuntas, berarti itu sama saja dengan menganggungkan budaya asing (arab). Dengan berdakwah, kita tidak harus menjadi orang arab (asing), namun harus tetap menjadi diri sendiri, seperti contoh film ‚Last Samurai‘. Justru dakwah di Jawa sangat tuntas, karena Islam bisa diterima oleh segenap rakyat, walau tanpa simbol arab. Keberadaan institusi pesantren di Jawa, menunjukkan bahwa dakwah berjalan dengan tuntas, dengan tetap menjaga budaya lokal. Di pesantren, bahasa Jawa tetap dipergunakan, bahkan kesenian Jawa tetap diperbolehkan. Di tempat dimana Budaya Jawa masih sangat kuat, seperti Yogyakarta dan Surakarta, toleransi antar agama berlangsung sangat baik. Sebab memang sudah watak dari budaya Jawa, bahwa perbedaan agama tidak perlu dipermasalahkan. Di kedua tempat itu misalnya, ada banyak sekolah Katholik, namun mereka dapat beroperasi dengan baik.

Quo Vadis Indonesia?

Contoh suksesnya dialektika antara budaya lokal dan asing, bukan hanya terjadi di Jawa. Suku Bangsa Batak misalnya, juga merupakan contoh menarik. Di Tapanuli Selatan, ada banyak yang beragama Islam, karena pengaruh budaya Minang. Sementara di Utara banyak yang Protestan atau Katholik. Namun, mereka tidak pernah perang agama. Mengenai Budaya Batak, akan saya bahas di artikel lain, jika referensi saya sudah kuat. Sama seperti Jepang, Indonesia saat ini mengalami dialektika dengan dua budaya besar. Yang pertama adalah budaya barat, dengan segala pola konsumerisme (MacDonaldisme) dan modernisme. Kedua adalah budaya arab, dengan Islam dan semua simbol arab yang dibawanya. Kasus Jepang dan Jawa pasca Majapahit telah menunjukkan, bahwa harmonisasi antara budaya asing dan budaya lokal adalah sangat mungkin.

Sewaktu artikel ini diturunkan, sedang dibahas oleh audiens luas mengenai pengesahan RUU Pornografi. Saya sendiri belum membaca isi RUU tersebut, baru membaca ulasannya saja. Pada prinsipnya, saya setuju bahwa materi pornografi harus diatur. Anak-anak dibawah umur harus dilindungi dan dijauhkan dari materi tersebut. Sebuah bangsa yang berbudaya, adalah bangsa yang mampu melindungi anak-anaknya dari pornografi. Anak-anak kita berhak atas hidup yang lebih bermakna dan berkualitas. Namun, apa itu pornografi harus diklarifikasi dahulu. Adalah absurd, jika berpendapat bahwa tari jaipong dan tari Bali adalah pornografi, karena cara berpakaian dan tarian mereka.

Adalah absurd juga jika berpendapat, bahwa patung Buddha atau patung Yesus di salib adalah pornografi juga, karena mereka berpakaian minim. Logika, bahwa patung Budha adalah pornografi dan sumber kemusyrikan, digunakan oleh Taliban sewaktu menghancurkan patung Budha raksasa di Baminyan, Afganistan. Sebuah bangsa yang besar, adalah bangsa yang seharusnya menghargai keaneka ragaman budayanya.

Kita tidak dapat memutar jam kembali ke masa lalu. Budaya barat dengan modernisme dan Budaya arab dengan agama Islam, adalah dua budaya asing yang sangat mendominasi wacana kebangsaan kita dan akan tetap demikian di masa depan. Namun yang patut diperhatikan adalah diperlukannya sintesa harmonis, seperti yang ditunjukkan Jepang, antara budaya asing dan budaya kita sendiri. Kita tetap dapat mengadopsi modernisme dan agama Islam, namun kita harus tetap mengingat jati diri kita sebagai orang Indonesia. Indonesia adalah bangsa yang sangat kaya akan keanekaragaman, sudah seharusnya mereka tetap kita jaga.

0 komentar:

Poskan Komentar